Islamic Studies

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaien

~ MENOLAK “GaLAu”


Image

oleh: waiman cakrabuana

Akhir akhir ini kata “Galau” menjadi sangat popular. Lebih lebih ketika kata kata itu dialamatkan kepada Presiden SBY yang selalu “sedikit sedikit curhat”, dan hampir sulit mengambil keputusan secara Tepat dan Cepat. Selalu terkesan ragu untuk mengambil keputusan, walaupun para juru bicara kepresidenan berapologi, itu adalah tanda kematangan SBY dalam mengambil keputusan, selalu mempertimbangkan berbagai hal.

Tetapi lepas dari keberadaan Presiden SBY yang dikesankan “galau”, kata ini juga popular ditengah masyarakat. Bukan hanya dikalangan ABG, orang dewasa juga sering menggunakan kata ini sebagai sebuah “trendy – verbalisme”. Secara bahasa, kata “galau”, dapat disejajarkan dengan kekhawatiran, kecemasan, keresahan, kepanikan, dan lain lain yang menunjukan suasana jiwa yang sedang kacau dan pikiran yang tidak karuan.

Pertanyaannya, apakah suasana “galau” ini adalah merepresentasikan keadaan umum masyarakat?. Tentusaja, jika benar, ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi kehidupan kiwari dan masa depan.

Mengapa bahaya?, sebab “galau”, ragu, was was adalah Perangkap Setan. Salah satu jurus setan adalah “menebar was was (keraguan / kegalauan)”, sehingga manusia tidak memiliki pandangan yang istiqomah (konsisten) dan tidak memiliki Furqan (garis pemisah yang jelas antara haq dan bathil).

Oleh karena itu, muslim pasti “menolak Galau”.

Abul basyar (bapaknya manusia), yaitu Adam AS pernah terjebak perangkap “galau” ini, yang tentu dihembuskan oleh Setan. Perhatikan ayat ayat berikut ini:

فَوَسْوَسَ لَهُمَا الشَّيْطَانُ لِيُبْدِيَ لَهُمَا مِنْ سَوْءَاتِهِمَا وَقَالَ مَا نَهَاكُمَا رَبُّكُمَا عَنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ إِلاَّ أَنْ تَكُوناَ مَلَكَيْنِ أَوْ تَكُوناَ مِنَ الْخَالِدِينَ. وَقَاسَمَهُمَا إِنِّي لَكُمَا لَمِنَ النَّاصِحِينَ. فَدَلاَّهُمَا بِغُرُورٍ …

“Maka setan membisikkan pikiran jahat (was-was) kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya, dan setan berkata, “Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)”. Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya,”Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,’ maka setan membujuk keduanya dengan tipu daya. …” [Al-A’râf/7:20-22]

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menceritakan hal serupa.

فَوَسْوَسَ لَهُ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَى شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لاَ يَبْلَى

“Kemudian setan membisikkan pikiran jahat (waswas) kepadanya, dengan berkata,”Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi (kekekalan) dan kerajaan yang tidak akan binasa?” [Thâhâ/20:120].

Lihatlah, bagaimana setan berlagak sebagai “konsultan ulung” terhadap Adam AS dan Istrinya!. Bahkan agar meyakinkan ia bersaksi dibawah sumpah; bahwa advis (nasehat)-nya kepada Adam AS adalah Benar. Padahal itu semua adalah tipu daya.

Apa yang terjadi?, rupanya muslihat setan itu berhasil membuat Adam AS “galau”, ia ragu apakah harus mematuhi aturan Allah untuk tidak mendekati pohon di Jannah atau mengikuti advis setan agar memakannya?. Seandainya Adam AS “Istiqomah” (teguh pendirian) dalam memegang aturan Allah, niscaya ia akan menolak dengan tegas bujukan setan. Tidak akan galau, walau dihembuskan virus was was (ragu) oleh setan.

Pasti beliau akan tenang jiwanya dalam mematuhi perintah Rabb-nya (Sakinah).

Tentu kisah ‘galau”-nya Adam AS adalah pelajaran bagi anak cucunya, agar tidak terjebak virus ‘galau’ ini. Karena itu, berikutnya Adam menyadari dan menyesali kesalahannya, dan kemudian segera ia bertobat. Salaam atasmu dari Allah wahai Adam AS.

oOo

Sebaliknya, dalam kisah Ibrahim ketika beliau diuji oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya :”Ismail”. Ibrahim bergegas untuk melaksanakan perintah Allah. Ditengah jalan ia diganggu oleh setan yang menebar was was pada Ibrahim: “masak ada bapak tega menyembelih anaknya sendiri”, “masak Allah memerintah menumpahkan darah anaknya sendiri”, kira kira begitulah setan menebar was was pada Ibrahim AS. Kalau zaman sekarang mungkin dibungkus secara ilmiah dengan “humanism” ataupun HAM.

Tetapi, Ibrahim Istiqamah dan menolak galau, maka ia lempari setan dengan batu.

Begitupun setan menggoda siti Hajar, yang merupakan ibu kandungnya ismail. Siti hajar digoda agar mencegah Ibrahim menyembelih anaknya.

Tetapi siti Hajar juga istiqomah dan menolak galau, maka iapun melempar setan dengan batu. Inilah dua hamba Allah panutan yang menolak galau. Habis Galau Terbitlah Istiqomah

Ooo

(waicak/ 4/29/2012)

3 comments on “~ MENOLAK “GaLAu”

  1. Ping-balik: ~ Anti Galau « Islamic Studies

  2. shidiq abdurraman
    7 Mei 2012

    izin share d grup sya yah,..!! mkasih atas pengetahuaannya…
    bermanfaat sekali.. ^_^

  3. Ping-balik: Islamic Studies

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 April 2012 by in تزكية النفس.
%d blogger menyukai ini: