Islamic Studies

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaien

~ BOM AIDS


ImageMunculnya penyakit seksual HIV/AIDS ini tidak lepas dari sistem hidup masyarakat dunia saat ini yang dipimpin oleh ideologi kapitalisme.

Bom kecil meledak orang terbelalak, tapi HIV/AIDS kian mengganas orang tak tersentak. Padahal, HIV/AIDS adalah bahaya terselubung yang sedang mengintai kehidupan masyarakat. Apakah Anda yakin, orang di sekitar Anda semuanya bebas HIV/AIDS?

WHO mencatat setiap hari ada 7.000 orang terinveksi Human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired immune deficiency syndrome (AIDS). Penyebarannya pun luar biasa. Tak ada yang menduga sebelumnya penyakit yang diidentifikasi pada tahun 1980-an itu merebak begitu cepat. Data menunjukkan orang yang tertular tahun ini mencapai 33 juta orang.  Pertambahannya tidak lagi mengikuti deret hitung tapi sudah mengikuti deret ukur. Korban tewasnya pun mencapai lebih dari 6 juta orang. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan penyakit flu burung yang terjadi beberapa tahun terakhir.

Penyakit yang awalnya ditemukan pada orang yang homoseksual ini pun mampir ke Indonesia. Di Indonesia, ODHA tahun ini mencapai lebih dari 26.000 orang. Mereka berasal dari berbagai kalangan dari mulai penggangguran, pelajar/mahasiswa, pekerja, PNS, polisi/tentara, hingga pengguna narkoba.

Penyakit ini menular paling besar melalui hubungan seks. Besarnya, penularan HIV/AIDS ini menunjukkan indikator bahwa perilaku seks bebas kian subur. Itu juga mengindikasikan bahwa berbagai pencegahan yang dilakukan selama ini gagal membuahkan hasil.

Pemerintah telah salah dalam menentukan akar masalah persoalan ini. Kalau pun tahu akan permasalahannya, penyelesaiannya tidak tuntas atau hanya setengah-setengah. Kalau dilihat, persoalan penularan HIV/AIDS ini karena adanya hubungan seks bebas, seharusnya pencegahannya adalah pelarangan seks bebas sama sekali.

Namun apa yang terjadi? Dalam kampanye-kampanye pencegahan HIV/AIDS justru yang dimunculkan adalah seks aman. Artinya boleh melakukan hubungan seks dengan siapa saja asalkan dengan menggunakan kondom. Jelas ini tidak kena sasaran. Soalnya, terbukti kondom sendiri tidak menjamin penularan HIV/AIDS ini. Yang tidak pakai pun tak ada sanksi. Terus siapa yang mengawasinya?

Perilaku maksiat para ODHA tak pernah dihentikan. ODHA yang biasa menggunakan jarum suntik, malah dibagikan jarum suntik agar tidak menggunakan satu jarum suntik dari orang lain. Demikian juga para pelacur tidak dilarang menjadi pelacur, tapi diberi kondom dan diminta menggunakan kondom bila melayani pelanggannya. Sementara para homoseks pun dianjurkan pakai kondom jika berhubungan seks.

Tindakan pemerintah ini tidak membuat jera orang-orang bejat ini. Seorang ODHA yang terkena HIV/AIDS karena homoseks mengaku kepada Media Umat, tetap melanjutkan tindakan terkutuk itu dengan alasan sekarang hal itu bisa dilakukan dengan aman. Ia tak merasa berdosa dan menghentikan aksinya meski penyakit mematikan menyerangnya.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah itu sama dan sebangun dengan program global. Tak heran jika hasilnya pun sama. Secara global, penularan penyakit itu tak terkendali. Di negara semaju Amerika saja, prevalensinya pun melonjak. Justru ada kecenderungan peningkatan yang tajam gara-gara ada obat yang bisa mengurangi risiko bahaya penyakit ini.

Buah Kapitalisme

Munculnya penyakit seksual HIV/AIDS ini tidak lepas dari sistem hidup masyarakat dunia saat ini yang dipimpin oleh ideologi kapitalisme. Dengan pola hidup yang permisif (serba boleh), hubungan laki-laki dan wanita maupun hubungan sejenis tidak boleh dibatasi. Pembatasnya hanya jika mengganggu hak-hak orang lain.

Dalam pandangan kapitalisme, kalau ada dampak dari pola hubungan seperti itu harus dicari obatnya. Bukan dilarang hubungannya itu sendiri. Karena melarang kebebasan warga negara—termasuk dalam hubungan seks—dianggap melanggar hak asasi manusia (HAM).

Maka wajar jika lokalisasi pelacuran dibiarkan dan malah dibangun. Tujuannya, mengais keuntungan dari bisnis esek-esek ini. Dengan dilokalisasi, para pelacur ini bisa dikontrol dan dijaga kesehatannya sehingga tetap bisa melayani tamu-tamu hidung belang dari mana pun. Kalau pun ada yang tertular penyakit, pemerintah membantunya dengan menyediakan berbagai obat-obatan dan sarana lainnya. Ini bisa menghidupkan perusahaan obat. Seks telah menjadi lahan bisnis.

Solusi Islam

Kondisi nyata itu bertolak belakang dengan pandangan Islam. Islam melarang sama sekali zina, apalagi homoseksualitas. Kalau remaja sudah baligh dan memiliki hasrat seksual, Islam membuka pintu bagi mereka untuk menikah. Menikah dalam masa muda tak perlu dipersulit, justru harus dipermudah.

Islam membatasi hubungan lawan jenis atau hubungan seksual antara pria dan wanita hanya dalam lembaga perkawinan dan melalui pemilikan hamba-hamba sahaya semata. Sebaliknya, Islam telah menetapkan bahwa setiap hubungan lawan jenis selain dengan dua cara tersebut adalah sebuah dosa besar yang layak diganjar dengan hukuman yang paling keras.

Sistem interaksi pria dan wanita dalam Islam menjadikan aspek ruhani  sebagai landasan dan hukum-hukum syariat sebagai tolok ukur. Di dalamnya terdapat hukum-hukum yang mampu menciptakan nilai-nilai akhlak yang luhur. Hukum-hukum tersebut banyak jumlahnya. Di antaranya, pria maupun wanita wajib menundukkan pandangannya. Mereka juga dilarang berkhalwat (berdua-duaan), kecuali wanita itu disertai mahramnya. Wanita juga tidak boleh tabaruj (bersolek).

Selain itu, Islam sangat menjaga agar jamaah (komunitas) kaum wanita terpisah dari jamaah (komunitas) kaum pria; begitu juga didalam masjid, di sekolah, dan lain sebagainya. Meski begitu, tetap membolehkan adanya kerja sama antara pria dan wanita yang  bersifat umum dalam urusan-urusan muamalat;bukan hubungan yang bersifat khusus seperti saling mengunjungi antara wanita dengan pria yang bukan mahramnya atau jalan-jalan bersama.

Pola hubungan yang demikian tidak akan terwujud di dalam sistem kufur seperti sekarang. Satu-satunya sistem yang bisa menjamin kehidupan yang lebih baik, terbebas dari HIV/AIDS adalah sistem Islam. Itulah khilafah.[] mujiyanto

source: http://www.mediaumat.com/media-utama/3573-72-bom-aids-.html

One comment on “~ BOM AIDS

  1. barifbrave
    2 Mei 2012

    Reblogged this on The Future Khalifa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 2 Mei 2012 by in ~ Serba Ada.
%d blogger menyukai ini: