Islamic Studies

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaien

~ Menggapai Kebahagiaan (Hakiki)


Image

Oleh: syeikh Oemar Bakri

Kebahagiaan adalah sesuatu yang kita semua memperjuangkannya. Siapa yang tidak ingin bahagia dan memiliki kehidupan yang baik? Tapi pertanyaannya adalah, apa yang dimaksud dengan kehidupan yang baik?

Beberapa orang membenci kehidupan mereka dan mereka selalu merasa sedih dan tertekan. Di sisi lain, ada orang yang menikmati hidup dan selalu bahagia dan tersenyum. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Apa penyebab kebahagiaan?

Di akhirat kehidupan yang baik akan berada di surga. Tapi apa yang terjadi dalam hidup ini? Mari kita lihat apa yang Allah SWT., katakan, karena Dia yang telah memberi kita kehidupan.

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri belasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl (16) : 97)

Segala sesuatu yang kita lakukan dalam hidup ini suatu saat akan menjadi “kawan” atau “lawan” kita. Setiap detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan dari kehidupan kita bisa membuat kita lebih dekat kepada Allah SWT., atau sebaliknya bisa menimbulkan kemarahan Allah SWT., dan melemparkan kita ke neraka.

Allah SWT., telah memberikan kita makanan, buah-buahan segar, daging, minuman, air, sinar matahari dan banyak lagi. Ketika seseorang bangun di pagi hari, siapakah yang memberikan kembali penglihatannya, pendengaran, pikiran dan jiwanya? Siapakah yang membuat kita sehat sementara yang lain menderita? Allah SWT., telah memberikan kita begitu banyak nikmat (berkah) agar kita mencintai dan bersyukur kepadaNya.

Allah ingin kita melakukan apa yang wajib dan menjauhkan diri dari apa yang telah dilarang. Barangsiapa yang mengira bahwa dengan menaatinya atau datang lebih dekat kepadanya akan menyebabkan hidup sengsara, maka itu adalah sebuah anggapan yang salah, bahkan mereka memiliki prasangka yang buruk tentang Allah. Allah SWT., berfirman :

“Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah.” (QS. Taha (20) : 2)

Kita hanya akan dapat menikmati hidup jika kita memenuhi kewajiban kita. Tidak ada yang akan memurnikan jiwa kita dan membuatnya baik, kecuali ketaatan kepada Allah SWT. Seseorang bisa mencicipi semua kesenangan dunia ini, tetapi tidak ada yang lebih menyenangkan daripada ketaatan kepada Allah SWT., dan menjaga diri dari laranganNya.

Kita akan menikmati hidup ketika kita melakukan apa yang Allah SWT., telah memerintahkan kita untuk melakukannya, seperti : dakwah, jihad, amar ma’ruf nahi munkar, membaca Al Qur’an, menegakkan sholat, dan lain-lain.

Kita akan menikmati kebersamaan dengan sahabat yang berada di atas manhaj yang benar, selalu mempelajari Ad Dien (Islam), berdakwah, bahkan menghabiskan waktu hanya karena menggapai keridhoan Allah SWT.

Sebelum kita mengatakan atau melakukan sesuatu dengan tubuh kita, kita perlu bertanya, apakah Dia yang memberiku tubuh dan hidup memungkinkan saya untuk melakukan ini? Apakah saya harus mendapatkan izin-Nya?

Apapun yang kita lakukan harus untuk menarik kita lebih dekat kepada Allah SWT, bukan kepada walikota, pemimpin, presiden atau raja. Sebaliknya, semua yang kita lakukan harus untuk kesenangan Raja dari segala Raja (yakni Allah SWT).

Jika kita tidak taat kepada Allah SWT., dalam semua bidang kehidupan, maka kita tidak akan pernah hidup bahagia. Kita akan selalu bingung, khawatir dan bosan. Kita akan menghabiskan seluruh hidup kita dalam mengejar kebahagiaan tetapi kita malah mendapatkan kehidupan yang sengsara. Rasulullah SAW., bersabda :

“Sungguh telah beruntung orang-orang yang tunduk (menyerahkan diri). Allah merezqikan kepada mereka kecukupan dan Allah cukupkan mereka dengan pemberiannya.” (Shahih Muslim, Hadits 1054)

Semakin dekat kita kepada-Nya, semakin kita akan menikmati hidup. Jika kita menegakkan sholat dengan khusyuk, memenuhi seluruh syarat dan rukunnya, maka tidak ada yang bisa menggantikan kepuasan yang kita rasakan. Semua uang di dunia ini tidak akan pernah bisa membeli sebuah kebahagiaan.

Jadi tanyakan pada diri kita, apakah kita telah melakukan apa yang telah diperintahkan Allah SWT., untuk kita lakukan ? Apakah kita telah menegakkan sholat, makan makanan yang halal, menutup aurat, menegakkan dakwah, berjuang mendirikan khilafah, mendukung jihad (jika kita tidak memiliki kemampuan berjihad), melawan penjajah, mentaati orang tua, dan menjaga diri dari apa yang Allah SWT., larang dalam seluruh aspek kehidupan?

Berikut beberapa hal yang membuat kita sulit mendekat kepada Allah.

1. Setan

Jauhkan diri kita dari setan (baik setan dari kalangan jin maupun manusia). Mereka akan membuat kita kehilangan harapan dan mencegah kita untuk dapat mendengarkan dan menerima kebenaran. Setan dari kalangan manusia adalah kafirin dan apa yang mereka publikasikan di media-media, seperti televisi, satelit, radio, serta teman-teman yang buruk. Teman yang buruk hanya mengajak kita untuk memikirkan fashion, selebriti, musik (mungkin mengirimkan kita sebuah link) dan mengajak kita untuk melakukan sesuatu yang haram. Teman yang buruk tidak mengingatkan atau mengajak kita kepada shalat, halaqah, atau berdakwah. Rasulullah SAW., bersabda : “Seseorang ditentukan oleh dien (agama) temannya”.

Begitu pula seseorang yang mengajak kita untuk memilih atau masuk dalam sistem kufur demokrasi, bergabung dengan polisi atau agen rahasia kafir, tentara kafir, adalah setan-setan dari kalangan manusia.

Adapun setan dari kalangan jin adalah yang selalu membisikkan  dan mengilhami kita untuk melakukan kesalahan. Setan akan berkata, “Tenang saja, Anda memiliki banyak waktu. Jangan buang waktu Anda untuk berdakwah, atau halaqah. Siapa yang telah memberi Anda makan? Nikmati saja hidup ini, begitu banyak hal yang Anda bisa lihat dan lakukan. Nikmati saja hidup ini”!

2. Syahwat

Keinginan kita menyebabkan kita mengabaikan tanggung jawab kita atau membenarkan kita agar tidak melakukan kewajiban.

“(Yaitu) orang-orang yang menjadikan agamanya sebagai permainan dan senda gurau, dan mereka telah tertipu oleh kehidupan dunia. Maka pada hari ini (Kiamat), Kami melupakan mereka sebagaimana mereka dahulu melupakan pertemuan hari ini, dan karena mereka mengingkari ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf (7) : 51)

Allah menyediakan kita dengan bantal, kasur, rumah, dan tempat tidur yang nyaman dalam kehidupan ini. Tetapi ketika kita mati tidak akan ada kasur atau bantal, yang ada hanyalah pertanyaan dan hukuman jika kita tidak menaati Allah SWT. Mereka yang tidak taat berharap mereka bisa kembali ke dunia ini:

“(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia). Agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan. “Sekali-kali tidak! Sungguh itu adalah dalih yang diucapkan saja. Dan di hadapan mereka ada barzakh sampai pada hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun (23) : 99 – 100)

3. Prasangka buruk kepada Allah

Suu’udzan berarti memiliki prasangka buruk kepada Allah SWT., dan meragukan-Nya. Ketika kita mengajak orang agar taat kepada Islam, dakwah, shalat dan melakukan perbuatan baik lainnya, beberapa orang menjawab dan merespon ajakan kita dengan mengatakan, “Biarkan saya menjadi diri saya sendiri. Saya tidak ingin hidup saya menjadi sulit. Saya ingin menikmati hidup.”

Orang yang meragukan Allah SWT., tidak menghargai apa yang Dia (Allah SWT) telah lakukan untuk mereka. Dan mereka yang ragu kepada-Nya tidak akan menikmati hidup. Allah SWT., berfirman:

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kananNYa. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (QS Az Zumar (39) : 67)

Orang-orang kafir dan mereka yang berpikir mereka akan memiliki kehidupan yang menyedihkan memiliki pandangan salah tentang Allah.

Jadi untuk mengatasi hambatan tersebut kita harus melakukan hal yang sebaliknya. Jauhkan diri kita dari setan, mendekatlah kepada ar Rahman (Allah SWT) dan jangan ikuti keinginan hawa nafsu kita, melainkan ikutilah Al Qur’an dan As Sunnah, dan berprasangka baiklah kepada Allah SWT.

Daripada bersama-sama setan (baik dari kalangan jin dan manusia), marilah bersama umat Islam, bersama jama’ah atau kelompok dakwah. Jadilah seorang Muslim yang mendukung ulama dan mujahidin. Jangan bersama orang-orang hanya karena mereka terkenal atau memiliki banyak uang. Fikirkan kembali setiap kali kita melakukan kesalahan atau melakukan dosa, maka semua itu hampir selalu karena pengaruh setan, baik dari kalangan manusia atau jin.

Jika kita ingin berprasangka buruk kepada seseorang, maka berprasangka buruklah kepada orang kafir, musyrik, atau fasiq. Jangan berfikir buruk kepada Allah SWT., atau umat Islam yang ta’at. Allah SWT., berfirman :

 “Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS Az Zumar (39) : 53)

(Talazum/ TheIslamist.net/almuhajirun.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 8 Mei 2012 by in تزكية النفس.
%d blogger menyukai ini: