Islamic Studies

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaien

API MENYALA, cahayanya padam {perumpamaan munafiq}. >> waiman cakrabuana


Perumpamaan mereka (orang munafiq) adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.
Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar)

(QS Al-Baqarah : 17-18)

(waicak sept 12). Ketika gelap, maka yang dibutuhkan adalah “cahaya” , agar dapat menerangi jalannya sehingga tidak sesat jalan dan sampai tujuan.

Orang munafiq diibaratkan seperti orang yang sedang menjalani hidup di dunia ini dengan ‘gelap’. Agar perjalanan hidupnya tidak tersesat,  dan sampai tujuan, maka dibutuhkan “cahaya hidup” sebagai penerang jalan kehidupan. “Cahaya hidup” itu adalah Al-Qur’an.

Hanya saja sikap munafiq terhadap Al-Qur’an adalah salah. Mereka , menjadikan Al-Qur’an bukan sebagai “penerang jalan”, tetapi “penerang diri”.

Diibaratkan orang yang menyalakan obor / lilin ditengah kegelapan, tetapi setelah obor / lilin itu nyala ternyata cahaya lilin itu hanya sanggup menerangi dirinya, sementara jalan hidupnya tetaplah gelap (dihilangkan cahayanya). Beda lagi jika yang dinyalakannya senter bateray, maka cahaya senter itu tidak menerangi tubuh tetapi menerangi jalannya.

Gambaran yang tepat akan sifat busuk kaum munafiqin. Mereka menjadikan Al-Qur’an sebagai media menuju kesenangan diri (oportunis). Mereka tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai “Hudan” (petunjuk hidupnya) tetapi sebagai komoditas. Mereka tidak mau menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber hukum dalam idiologi, politik, ekonomi, social budaha dan HANKAM.

Al-Qur’an dijadikan alat untuk meraih harta, tahta bahkan wanita. Bahkan Al-Qur’an dijadikan dalil untuk menjustifikasi aturan / hukum yang mereka bikin sendiri. Hal ini pernah terjadi pada kaum Yahudi dan Nashrani. Mereka mencampakkan Kitab Allah dan membuat Kitab (aturan / hukum sendiri) tetapi kemudian mereka berkata :”ini dari Allah” (QS 2:75-79).

Mereka mengaku mengimani Kitab Allah (Al-Qur’an) tetapi berhukum dengan hokum Thaguth (QS 4:60). Mereka mengaku beriman kepada Al-Qur’an tetapi enggan berjuang menegakan hukum yang berdasarkan Al-qur’an / syari’at Islam (QS 5:68).*****

seri: Munafiqun

Tulisan terkait:

MUNAFIQUN

ANJING HAUS “Pengkhianat”

Tak Ber-akar – Tak Ber-Buah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 12 Oktober 2012 by in ~ AqiDaH.
%d blogger menyukai ini: