Islamic Studies

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaien

Syirik dan Fenomena Kemusyrikan >> ibnu audah as-sundawi


Wallpaper-Nature-07022701

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (QS. An Nisa’: 48)

“dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh”  (QS Al-Hajj : 31)

Syirik adalah menyamakan (mensejajarkan) selain Allah dengan Allah Ta’ala pada perkara-perkara yang menjadi hak Istimewa-Nya (kekhususannya).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لا يَنْفَعُكَ وَلا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyeru selain Allah yang tidak bisa mendatangkan manfaat dan madlarat buat kamu, jika kamu melakukannya berarti kamu tergolong orang-orang yang dzalim”. (Yunus [10]: 106)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ

“Dan barangsiapa menyeru tuhan yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung”. (QS. Al Mukminun [23]: 117)

Oo-

Fenomena mensejajarkan Allah dengan selain Allah pada saat ini sangat banyak, dan kerapkali tidak dipahami sebagai sebuah kemusyrikan. Semua ini terjadi, karena kebodohan (ketiadaan Ilmu), padahal ini adalah KELANCANGAN terbesar terhadap Allah Ta’ala.

Beberapa Fenomena kemusyrikan yang terjadi saat ini:

1. Syirik dalam Hukum

Hak membuat hukum adalah milik Allah Ta’ala, ini merupakan Hak Istimewa Allah Ta’ala.

إن الحكم إلا لله يقص الحق وهو خير الفاصلين

“… keputusan (membuat hukum itu) adalah milik Allah, dan Dia Pemberi Keputusan yang baik” (QS Al-An’am (6) ayat 57)

Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun tentang nama-nama itu. Keputusan (membuat hukum ) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS Yusuf (12) ayat 40)

“…Keputusan (menetapkan hukum itu) hanyalah hak Allah; kepada-Nya-lah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri”. (QS Yusuf (12) ayat 67)

Tentang sesuatu apa pun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya lah aku kembali. (QS Asy-Syura (42) ayat 10)

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah (membuat aturan) itu adalah milik Allah”. (Qs. Al-A’raf : 54)

Allah tegaskan bahwa tidak boleh ada yang menandingi atau menyamai Hak Istimewa Memproduk hukum selain Allah, alias tidak boleh Syirik dalam Hukum.

ولا يشرك في حكمه أحدا

dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan (hukum)”. (QS Al-Kahfi (18) ayat 26)

Manusia yang sombong dan lancang, berani menandingi atau menyamai hak Istimewa Allah dalam memproduk hukum adalah TUHAN PALSU, yang didalam Al-Qur’an disebut dengan Istilah ARBAB. Seperti dalam sistem DEMOKRASI, dimana hak tertinggi membuat hukum ada di tangan rakyat baik langsung ataupun melalui perwakilannya di Parlemen. Atau dalam sistem MONARKI, dimana hak tertinggi memproduk hukum ada ditangan Raja atau Dinastinya. Ini adalah FENOMENA KEMUSYRIKAN yang jahr (terang benderang) dengan ilmu (ma’rifat), tetapi menjadi KEMUSYRIKAN yang sir (samar) karena kebodohan atau karena pembangkangan yang dibiasakan.

اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون

Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS At-Taubah (9) ayat 31)

Pada zaman Nabi Muhammad ada sahabat Adi Bin Hatim yang dulunya Nashrani bertanya kepada Rasulullah SAW: “Kami tidak pernah menyembah mereka dari selain Allah,” maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Bukankah mereka mengharamkan atas kalian apa yang dihalalkan Allah dan menghalalkan bagi kalian apa yang diharamkan Allah lalu kalian mengikutinya?” Ia menjawab: “Ya”, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Yang demikian itu adalah bentuk penyembahan terhadap mereka”. (HR Tirmidzi)

Jadi Ulama dan pemimpin mereka disembah (diibadahi) oleh mereka, bukan karena sujud atau ruku’ dihadapannya tetapi mentataati produk hukumnya, dimana produk hukumnya itu diluar hukum Allah (wahyu).

Produk hukum yang dibuat oleh manusia diluar hukum Allah adalah Hukum Jahiliyyah yang wajib dihindari, karena itu adalah produk najis (kotor), firman Allah Ta’ala:

أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al-Maidah (5) ayat 50)

Ke-SYIRIK-an para pembuat Hukum / undang undang diluar hukum Allah, karena mereka menandingi atau ingin menyamai Allah dalam hak istimewanya sebagai SUMBER PRODUK HUKUM.

Menetapkan hukum bukan dengan Hukum Allah adalah Kekafiran, kefasikan dan kedzaliman (QS 5:44-47), maka pemerintah dan negara yang tidak berhukum dengan hukum Allah adalah pemerintah dan negara yang Kafir, Dzalim dan Fasiq, karena kemusyrikan yang dianutnya.

Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz –semoga Allah memaafkannya– mengatakan:

وَكُلُّ دَوْلَةٍ لاَ تَحْكُمُ بِشَرْعِ اللهِ وَلاَ تَنْصَاعُ لِحُكْمِ اللهِ وَلاَ تَرْضَاهُ فَهِيَ دَوْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ كَافِرَةٌ ظَالِمَةٌ فَاسِقَةٌ بِنَصِّ هَذِهِ الآيَاتِ الْمُحْكَمَاتِ . يَجِبُ عَلَى أَهْلِ الإِسْلاَمِ بُغْضُهَا وَمُعَادَاتُهَا فِي اللهِ وَتَحْرُمُ عَلَيْهِمْ مَوَدَّتُهَا وَمُوَالاَتُهَا حَتَّى تُؤْمِنَ بِاللهِ وَحْدَهُ وَتُحَكِّمَ شَرِيْعَتَهُ وَتَرْضَى لَهَا وَعَلَيْهَا

“Setiap negara yang tidak berhukum dengan syari’at Allah dan tidak tunduk kepada hukum Allah, serta tidak ridla dengannya, maka itu adalah negara jahiliyah, kafirah, dhalimah, fasiqah dengan penegasan ayat-ayat muhkamat ini. Wajib atas pemeluk Islam untuk membenci dan memusuhinya karena Allah dan haram atas mereka mencintainya dan loyal kepadanya sampai beriman kepada Allah saja dan menjadikan syari’atnya sebagai rujukan hukum dan ridla dengannya.” [ Naqdul Qaumiyyah Al Arabiyyah yang dicetak dengan Majmu fatawa wa Maqaalaat Mutanawi’ah 1/309-310.]

Syaikh Shalih Al Fauzan berkata:

اَلْمُرَادُ بِالْبِلاَدِ الإِسْلاَمِيَّةِ هِيَ الَّتِيْ تَتَوَلاَّهَا حُكُوْمَةٌ تَحْكُمُ بِالشَّرِيْعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ..لاَ الْبِلاَدُ الَّتِيْ فِيْهَا مُسْلِمُوْنَ وَتَتَوَلاَّهَا حُكُوْمَةٌ تَحْكُمُ بِغَيْرِ الشَّرِيْعَةِ الإِسْلاَمِيَّةِ فَهَذِهِ لَيْسَتْ إِسْلاَمِيَّةً

“Yang dimaksud dengan negeri-negeri Islam adalah negeri yang dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan syari’at Islamiyah… bukan negeri yang di dalamnya banyak kaum muslimin dan dipimpin oleh pemerintahan yang menerapkan bukan syari’at Islamiyah, negeri seperti ini bukanlah negeri Islam.”[ Al Muntaqaa Min fatawa fadlilatusy Syaikh Shalih Al Fauzan 2/254 no: 222]

Hal serupa dikatakan oleh Syaikh Muhammad Rasyid Ridla rahimahullah bahwa negeri seperti itu bukanlah negeri Islam.[ Tafsir Al Manar 6/416]

2. Syirik dalam Ketaatan

Hak Allah saja untuk diibadahi dan ditaati, sebab Allah-lah satu satunya Ilaah, “Tidak ada Ilaah selain Allah”.

Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (QS Al-Fatihah (1) ayat 5)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS Ali Imran (3) ayat 64)

Dalam bahasan sebelumnya (Syirik HUKUM) telah dibahas, bahwa siapa yang memproduk hukum diluar hukum Allah adalah kemusyrikan karena lancang ingin menyetarai Allah dalam hak istimewanya sebagai satu-satunya Sumber Produk Hukum. Adapun Hukum yang diproduknya adalah Hukum Jahiliyyah (QS 5/50).

Adapun yang mengikuti produk hukum mereka adalah taat kepada mereka, dan ketaaatan kepada Hukum Jahiliyyah adalah juga KEMUSYRIKAN. Musyrik dalam Tha’at.

“…dan jika kamu mentaati mereka, tentulah kamu telah menjadi orang musyrik”. (Qs. Al-An’am (6) ayat 121)

Imam Al-Hakim meriwayatkan dengan sanad Shahih dari Ibnu ‘Abbas, bahwasanya ayat ini turun berkenaan dengan perdebatan antara orang-orang muslim dgn orang-orang kafir tentang masalah keharaman bangkai. Orang-orang kafir mendebat orang-orang muslim bahwa bangkai itu adalah halal, karena Allah yang mematikan hewan tersebut sehingga hewan yang dimatikan oleh Allah adalah halal. Mereka berdalil, mengapa hewan yang disembelih (dimatikan) oleh manusia itu halal sedangkan hewan yang disembelih (dimatikan) oleh Allah itu haram? Jadi kalau begitu sembelihan manusia lebih baik daripada sembelihan Allah?

Alasan orang-orang kafir ini sekilas terlihat benar. Akan tetapi, pada kenyataannya adalah Allah telah menetapkan keharaman bangkai. Makanya diakhir ayat Allah berfrman, jika kita mentaati mereka dalam hal kehalalan bangkai ini, tentu kita akan jadi org musyrik.. Kenapa? Krn Allah telah menetapkan bahwa bangkai itu haram, sehingga jika ada orang yang membuat hukum lain tentang bangkai dan kita mentaatiny, maka kita telah berbuat syirik.

Satu kasus hukum dalam satu bidang saja Allah sudah memvonis SYIRIK, apakah lagi jika berbagai kasus dalam berbagai bidang?

Syaikh Ahmad Syakir rahimahullah berkata:

إِنَّ الأَمْرَ فِيْ هَذِهِ الْقَوَانِيْنِ الْوَضْعِيَّةِ وَاضِحٌ وُضُوْحَ الشَّمْسِ هِيَ كُفْرٌ بَوَّاحٌ لاَخَفَاءَ وَلاَ مُدَاوَرَةَ وَلاَ عُذْرَ ِلأََحَدٍ مِمَّنْ يَنْتَسِبُ لِلإِسْلاَمِ كَائِنًا مَنْ كَانَ فِي الْعَمَلِ بِهَا أَوِ الْخُضُوْعِ لَهَا أََوْ إِقْرَارِهَا فَلْيَحْذَرِ امْرُؤٌ لِنَفْسِهِ وَكُلُّ امْرِئٍ حَسِيْبُ نَفْسِهِ

“Sesungguhnya vonis bagi undang-undang buatan manusia (qawaaniin wadl’iyyah) ini adalah sangat jelas seterangnya matahari, yaitu kufrun bawwah (kekafiran yang membuat pelakunya murtad dengan jelas), tidak ada kesamaran, tidak perlu debat, dan tidak ada (udzur) alasan bagi orang yang menisbatkan dirinya ke dalam Islam ini, siapa saja orangnya, dalam mengamalkannya, tunduk kepadanya, atau mengakuinya. Hendaklah setiap orang hati-hati akan dirinya, karena setiap orang bertanggung jawab atas dirinya.” [ Risalah Wujub Tahkim Syar’illah Wa Nabdzu Maa Khalafahu hal: 16-17, cetakan: V tahun 1409 H, dari kitab Dlawabithuttakfir ‘Inda Ahlis Sunnah Wal Jama’ah Karya Abdullah Muhammad Al Qarniy hal: 169-170 atau Wujub Tahkim Syar’illah yang dicetak bersama dengan Tahkimul Qawaaniin: 39-40 cetakan pertama, Darul Muslim 1411 H] Jadi SYIRIK HUKUM adalah ke-syirik-an karena membuat Hukum dan perundang-undangan diluar Hukum Allah Ta’ala, ini berlaku bagi para Penguasa yang memeliki kewenangan untuk legislasi (melegalkan), Yudikasi (mengawasi) dan eksekusi (menerapkan) hukum ditengah masyarakat.

Sementara SYIRIK THA’AT adalah ke –syirik-an karena ketaatan kepada hukum dan perundang undangan diluar hukum Allah, ini berlaku bagi masyarakat yang mengakui, menerima, dan atau mentaati hukum dan perundang undangan JAHILIYYAH.

3. Syirik dalam Kedaulatan

Allah adalah Al-Maalik (pemegang kedaulatan dan kekuasaan hukum tertinggi), hal ini di tegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, diantaranya;

“Tiadakah kamu mengetahui bahwa kerajaan langit dan bumi adalah kepunyaan Allah? Dan tiada bagimu selain Allah seorang pelindung maupun seorang penolong” (QS Al-Baqarah (2) ayat 107)

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS Ali Imran (3) ayat 26)

Keyakinan dan idiologi bahwa kedaulatan ditangan rakyat (DEMOKRASI) atau ditangan seorang manusia (MONARKI) adalah MUSYRIK, karena ini adalah bentuk kelancangan manusia dimana ia ingin menandingi hak istimewa Allah sebagai Al-Maalik Pemegang Kedaulatan dan kekuasaan tertinggi.

Dan katakanlah: “Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya. (QS Al-Isra (17) ayat 111)

yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan (Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. (QS Al-Furqan (25) ayat 52)

Adanya ketaatan dan pembuatan hukum karena adanya keyakinan berkait KEDAULATAN dan KEKUASAAN TERTINGGI ini. Dan Allah adalah Al-Malikul Mulki.

Oo-

Inilah Fenomena kemusyrikan zaman sekarang yang sir (samar) karena kebodohan atau karena pembangkangan yang terlanjur menjadi biasa, dan Fenomena kemusyrikan yang Jahr (terang benderang) dengan cahaya Ilmu Allah dan Hidayah dari Allah Ta’ala

-oOo-

Wassalam
Semoga bermanfaat

Ibnu audah as-sundawi

One comment on “Syirik dan Fenomena Kemusyrikan >> ibnu audah as-sundawi

  1. Ping-balik: oO- HAKIKAT HIJRAH {2} >> waiman cakrabuana « Ruang Juang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 1 Desember 2012 by in ~ AqiDaH.
%d blogger menyukai ini: